RSS

Arsip Kategori: Roman

Empat Jam Setengah

Empat Jam Setengah
Roman : Sang Bayang

***
Kurang ajar sekali perempuan ini, pikirku. Apa dia tidak kenal dengan aku si Halilintar paju, hingga berani berkata seenak mulutnya. Siapa perempuan sundal nan berengsek ini. Batinku menggerutu. Karena merasa diremehkan, karena merasa dipermalukan dihadapan umum. Apalagi oleh seorang perempuan. Aku geram, aku marah, dengan perlakuan ini. Dengan congkakanya emosiku memuncak. Sebuah tangan terulur menjuntai dihadapku yang mengajak bersalaman itupun, kutepis dengan keras. Read the rest of this entry »

 
37 Komentar

Ditulis oleh pada 27 Juli 2012 in Cerpen, Roman

 

Tag: ,

Tradisi Maskapai Yang Membumi

Tradisi Maskapai Yang Membumi.
Roman : Sang Bayang

Selama Pak Yohan di Taiwan, semua lancar. Susunan akal bulusku berjalan mulus. Yah., betapa hebat dan mulianya aku saat ini. Aku yang berdiri mengangkangi singgasana, diantara tiga wanita. Kebebasan yang kudapat, seolah benar-benar berpaling dari segala tatanan-tatanan yang kadang terasa konyol. Satu hal yang berubah. Malam yang biasanya kulalui di tempat-tempat hiburan, kini cukup satu langkah senang kudapat. Di rumah ini, bersama tiga bidadari, aku berkuasa. Dan aku sadar betul, kekuasaanku layaknya bermahkota api, yang tidak kekal dan sewaktu-waktu bisa membakar diriku sendiri. Sebab itulah, meski kukepal kekuasaan, aku tetap berhati-hati. Karena aku tak mau terbakar api mahkotaku sendiri. Read the rest of this entry »

 
7 Komentar

Ditulis oleh pada 23 Juli 2012 in Roman

 

Tag: ,

Mahkota Api

Mahkota Api.

Roman : Sang Bayang.

Hari ini tak banyak kegiatan di kantor, jenuh rasanya. Membaca koranpun, beritanya malah membosankan dan bikin eneg. Sedikit iseng ngecek email. Perhatianku tertuju pada satu mailbox, setelah kubaca ternyata, sebuah undangan yang menyatakan bahwa, dua hari lagi satu atau dua orang Perwakilan dari PT.GLOBALIDO FURNITURE diminta untuk datang kekota Shinjuan-Taiwan, guna keperluan menindak-lanjuti kerja sama ekspor-impor yang dilakukan oleh PT tempatku bekerja. Berharapan dua hari lagi pergi ke Taiwan, segera kabar ini kusampai pada Pak Yohan. Langkah kupercepat, memacu Toyota Alphart kearah rumah. Dalam perjalanan yang ada dibenaku hanyalah bayangan “Kota Shinjuan yang indah ditepi sungai, dimana aku bisa shooping ke Banciao dan Thaisan. Menikmati suasana kota shancong dimalam hari sambil ngopi atau mancing di Shihlin, semua ini pasti asik” pikirku. Read the rest of this entry »

 
24 Komentar

Ditulis oleh pada 12 Juli 2012 in Cerpen, Roman

 

Tag: , , ,

Halilintar Paju

Halilintar Paju
Roman : Sang Bayang

Halilintar PajuKepergian Selvi membuat kosentrasi pekerjaan dan perjalanan karierku makin membaik. Ditambah perkenalanku dengan Koh Liang (orang Taiwan), yang mau bekerja sama dengan perusahaan tempatku bekerja, sangat membantu diriku dalam meningkatkan jabatan. Aku yang dulu bergumul dengan serbuk-serbuk kayu, kini tak harus lagi diperintah-perintah layaknya seorang jongos. Entah karena hokkhi, atau karena kepandaianku dalam membual, hingga para investor asing yang berbondong-bondong ke Jepara ini begitu percaya. Ahh, masa bodoh apapun factornya, yang jelas, ditangankulah abang-irenge PT. GLOBALINDO FURNITURE berada, disinilah aku berkuasa.

Untuk memudahkan urusan kerja, sambil menunggu selesainya pembangunan rumah inventaris, aku diminta untuk tinggal serumah dengan keluarga Pak Yohan (pemilik perusahaan). Yahhh.., rumah lumayan besar yang dihuni Pak Yohan beserta istri dan dua anak gadisnya itu, kini mendapat tambahan Read the rest of this entry »

 
43 Komentar

Ditulis oleh pada 8 Juli 2012 in Cerpen, Roman

 

Tag: , , ,

Bayangan Tak Bertuan

Bayangan Tak Bertuan
Cerpen Dan Roman : Sang Bayang

Bayangan Tak Bertuan

Selvinia Nilamsari yang tidak terlalu cantik, tapi juga tidak jelek. Anak pertama dari tiga bersaudara yang tinggal di sebelah kontrakan ini memiliki perawakan ceking mboys. Maaf.., sengaja dibuka dengan kata seperti ini, sebagai permulaan cerita yang wajar, agar pembaca dapat dengan cepat memulai fantasainya sendiri. Okey.., silahkan.

Selvinia Nilamsari dan dua saudaranya yang kukenal akrab lantaran hampir setiap hari aku bertandang kerumahnya, sekedar membaca Koran, minum kopi, ngobrol dan mendengarkan mereka bercerita dengan sabar ini cukup baik, saking baiknya hubungan kami boleh dibilang layaknya seperti adik-kakak. Kedua orang tuanya meninggal tujuh tahun lalu akibat kecelekaan tunggal.  Latar belakang kehidupan mereka gelap, memorie seorang bapak yang menjadi tempat bernaung anak-anaknya, perhatian dan belaian kasih-sayang seorang ibu yang dulu senantiasa mereka dapat setiap saat harus meninggalkan mereka ketika masih berumur belasan tahun. Read the rest of this entry »

 
11 Komentar

Ditulis oleh pada 3 Juli 2012 in Cerpen, Roman

 

Tag: